KERAJAAN KUTAI MULAWARMAN
Sejarah Kerajaan Kutai Mulawarman di Martapura (Muara Kaman) berawal dari masa pemerintahan Kerajaan Sagara Pravatam Sadiva Malaya yang pada abad ke-1 dipimpin oleh Tan Tahani pada masa pemerintahan Kerajaan Maharaja Sri Kudungga dan menjadi sebuah negara dengan nama Kerajaan Kutai dengan ibukotanya di Martapura (Muara Kaman) sehingga pada tahun 1635 sampai 2001 kekuasaan negara dipegang oleh penjajah hingga kedaulatan Adat dan Kebudayaanya Kembali dengan nama Kerajaan Kutai Mulawarman dan terdapat 50 raja hingga saat ini.
Kerajaan Kutai adalah kerajaan Hindu di Nusantara yang merupakan kerajaan paling awal di Indonesia. Kerajaan Kutai Kuno berawal dari sebuah kerajaan daerah bernama Sadiva Malaya Sagara yang didirikan pada tahun 17 M dan kemudian menerima kedatangan pendeta Hindu dari Barata (India).
Kerajaan Kutai menganut agama Hindu dan menjadi negara besar pada abad ke-4 (sekitar 400 M) dengan bukti ditemukannya 7 Tiang Prasasti Berbentuk Yupa di Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, Indonesia.
Kerajaan ini terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur tepatnya di hulu Sungai Mahakam, Hal Ini Juga di Bahas Didalam Panel Discussion Sejarah Kerajaan Kutai di tahun 1972. Dan Dalam Buku Syaukani Membangun Kutai Menuliskan Tentang Nama Kutai dalam bahasa Pallava adalah "Qutaire" yang artinya padang yang luas Artinya bisa (Daratan, atau Lautan) karena kerajaan ini memiliki lautan dan daratan yang sangat luas, Nama Kutai dalam Bahasa Cina (Kho-Thay) artinya Kerajaan Besar yang pernah terjadi peperangan pada tahun 1117 Dengan Pangeran Cina Yang Ingin Mempersunting Maharatu Mulawarni (Aji Pidara Putih).
Ibukotanya adalah Maradavure (Martapura) artinya Pintu Permata, Batu Yupa dan Batu Yoni Lingga dibangun oleh "Brahmana", yang sekarang disebut Prasasti Yupa. Nama Yupa disebutkan dalam prasasti yang ditemukan yang menunjukkan keberadaan alas kerajaan yang dibangun pada abad ke-4.
Budaya religi ini dibawa ke Indonesia sekitar abad ke-2 atau ke-4 yang masing-masing dibawa oleh Pedagang Warandewa Wangsa yaitu pedagang India dan Campa.
Dalam kehidupan dinasty atau keturunan raja-raja masih mempertahankan tradisi dan upacara sehingga dari budaya Belian Belian Tanah, Belian Semega, Belian Tujuh Buka Walu dan Bahasa Sawai, menyebutkan Wilayah dan Silsilah dan ada Syair-Sair Lainya seperti Dondang, Dandeng, Neroyong Adalah Seni Beryair Dalam Upacra Adat Karena Hukum Adat masih tetap ada. Untuk diingatkan dari generasi ke generasi, Semua ini baru tercatat pada tahun 1997 dan selesai pada tahun 1999 hingga 2011, silsilah tersebut tercatat dalam buku register Pengadilan Negeri Tenggarong Silsilah Ini Dihimpun Kembali Dari Keluarga Yang Masing-Masing Memberkan Keterangan Dan Catatan Keluarganya Dari Masa Muara Kaman Menjadi Kampung Sampai Menjadi Kecamatan Kembali dan Di Kumpulkan dari Keluarga Dan Menjadi Catatn Yang di Masukan Dalam Buku Mengikuti Lomba Penelitian Ilmiah Di Jakarta Tahun 1997 dengan Piagam Dari Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Kementerian Pendidikan Menengah dan Umum Republik Indonesia makalah Tersebut Berjudul Sejarah Kebudayaan Kerajaan Kutai.
Era Kerajaan Kutai di Martapura dimulai pada masa pemerintahan Maharaja Sri Mulawarman Naladewa pada abad ke-4. Dan sebelumnya mereka adalah Maharaja Sri Kudungga dan Maharaja Acwawarman dan Para Raja di Sebut Para Tahani.
Kawasan yang dikembangkan pada masa pemerintahan Maharaja Sri Mulawarman Naladewa, penduduknya hidup sejahtera dan merasa damai. Pada abad ke-13 terjadi penyerangan dari kerajaan Tar - Tar Mongol ke wilayah Jawa. Kemudian di Jawa didirikan Kerajaan Majapahit yang luasnya sampai dengan Kerajaan Banjar, dan memiliki Kebataran Kartanegara, Tentang Silsilah Kutai Nama Raja-Raja dari Martapura (Muara Kaman) Ditulis Dalam buku yang di terbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan PROYEK PENERBITAN BUKU SASTRA INDONESIA DAN DAERAH Jakarta 1981 oleh D. Adham Didapat Dari Kisah Pertemuan Antara Maharaja Sultan sebagai Batara Kerajaan Majapahit di Tanjung Kutei dan Maharaja Indra Mulia Dari Muara Kaman Yang kemudian Berangkat Ke Majapahit Dalam Kisah ini bertepatan Dengan Prestiwa Perkawinan Raja Hayam Huruk dengan Putri Dyah Pitraloka dari Padjajaran Namun Di Majapahit Terjadi Perang Bubat, Maharaja Indra Mulia Memilih Kembali Ke Muara Kaman Akan Tetapi Maharaja Sultan dan Maharja Sakti Ikut Berperang di Bubat Dan Melanjukan Tugas Mempelajari Tentang Ilmu Pemerintahan Karena Kejadian diceritakan dalam Silsilah Kutai Memerangi Siung Wanara Melihat Sejarah Siung Wanara adalah Raja Kendan di Nagrek Garut Yang Sudah Meninggal 500 Tahun Sebelum Adanya Kerajaan Majapahit Yang Tepat Adalah Perang Bubat di Era Kerajaan Majapahit Pemerintahan Hayam Huruk.
Di bawah kekuasaan kolonial VOC-lah yang mengubah keadaan politik di nusantara sehingga pada tahun 1635 kekuasaan VOC sangat ingin menguasai wilayah Raja-Raja dengan perang. Kemudian setelah penjajahan VOC dan di era kemerdekaan Indonesia, kerajaan dihidupkan kembali oleh Pemerintah dalam upaya melestarikan tradisi Adat Budaya.
Pada tanggal 03 September 2001 sampai dengan 09 September 2001.
Bertempat di Muara Kaman, diadakan CERAU yaitu Upacara Adat Mulawarman (UAM) Soothe: Maharaja Srinala Praditha Alpiansyahrechza Fachlevie Wangsawarman (MSPAIansyahrechza.FW) Maharaja Kutai Mulawarman, Yang Berdaulat Agung bergelar, Duli Yang Maha Mulia Sripaduka Baginda Maharaja Kutai Mulawarman.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya









Komentar
Posting Komentar